KONSEP IPTEKS DAN PERADABAN ISLAM

KONSEP IPTEKS DAN PERADABAN ISLAM, independensi.com

BAB I

PENDAHULUAN



LATAR BELAKANG 
Islam sangat memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuab, teknologi, dan seni dalam kehidupan umat manusia. Peradaban Islam pernah mengalami masa-masa keemasaan, yaitu masa ketika peradaban Islma mencapai puncak kejayaannya. Hal ini ditandai dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, sehingga peradaban Islan mampu memimpin peradaban dunia.

Namun, saat ini justu umat Islam tertinggal jauh sekali terutama dalam perkembangan ilmu pengetaguan dan teknologi. Oleh karena itu,perlu upaya rekonsruksi untuj menata embali berbagai aspek dalam kehidupan umat Islan baik dalam bidang ilmu pengetahuan, trknologi, maupun seni yang merupqkan bagian dari peradabannya, agar sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
           
TUJUAN
Untuk mengetahui IPTEKS dan peradabannya dalam Agama Islam.


BAB II

ISI

IPTEKS dan Peradaban dalam Islam



Pengertian IPTEKS
IPTEKS merupakan singkatan dari Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni.  Kata “ilmu” berasal dari bahasa Arab ‘ilm yang memiliki beberapa arti, antara lain knowledge (pengetahuan), learning (pengajaran), lore (adat dan pengetahuan), information (pemberitahuan), intellection (kepandaian), dan perception (pendapat). Jamak dari ‘ilm adalah ‘ulum yang berarti science (ilmu pengetahuan), dan al’ulum yang berarti natural science (ilmu alam)

Dalam bahasa Indonesia, Ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian. Sementara pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui. Dari definisi tersebut pengertian antara ilmu dan ilmu pengetahuan sepintas sama, yakni berkaitan dengan pengetahuan, pengajaran, kepandaian, dan pendapat. Ilmu pengetahuan membuat manusia menjadi dekat dengan Penciptanya dan terangkat derajatnya. Allah berfirman dalam Alquran : “Katakanlah! Apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu) . sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (Q.S. az-Zumar, 39:9)
“Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu: berlapang-lapanglah dalam majlis, maka lapangkanlah, niscahya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscahya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengtahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Mujadalah, 58:11) 

Demikianlah, betapa kuat dorongan Alquran terhadap penguasaan ilmu pengetahuan oleh uma manusia. Allah memerintahkan manusia untuk menyelidiki dan merenungkan penciptaan alam semesta ini. Dengan mencermati semua ini, manusia akan semakin menyadari keagungan ciptaan Allah sehingga akhirnya akan dapat mengenali Penciptanya, yang telah menciptakan manusia beserta isinya dari ketiadaan. Ilmu pengetahuan menawarkan cara untuk menemukan rahasia keagungan Allah yaitu dengan mengamati alam semesta ini beserta makhluk di dalamnya dan menyampaikan hasilnya kepada umat manusia. Oleh karena itu, Islam menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat mempelajari keagungan ciptaan Allah SWT.

Adapun teknologi diartikan sebagai “metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis atau ilmu pengetahuan terapan”.  Dalam petunjuk Alquran, seorang muslim diperbolehkan menerima hasil teknologi yang sumbernya netral, tidak menyebabkan perbuatan maksiat dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jika penggunaan teknologi membuat seseorang lalai dari zikir dan tafakur serta mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan maka bukan hasil teknologinya yang mesti ditolak melainkan manusia sebagai pengguna maupun penghasilnya harus diarahkan agar aktifitas kehidupannya selalu dalam bingkai nilai-nilai ajaran Islam. 

Sementara seni adalah keindahan. Seni merupakan ekspresi ruhani dan budaya manusia. Seni lahir dari dorongan sisi terdalam manusia yang mengandung nilai-nilai keindahan. Dorongan tersebut merupakan naluri atau fitrah yang dianugerahkan Allah SWT. Allah berfirman dalam Alquran yang berbunyi “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah diatas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.  (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum, 30:30)

Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk hidup lain. Karya seni yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi. Islam mendukung kesenian yang menjujung tinggi fitrah manusia yang suci, sehingga Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia dalam Islam. Al quran memerintahkan manusia untuk mengakkan kebajikan, memerintahkan perbuatan yang ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar. Kesenian yang ma’ruf merupakan hasil kreasi masyarakat yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Sementara kesenian yang munkar tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pada dasarnya Islam sangat menghargai segala kreatifitas manusia, termasuk yang lahir dari penghayatan manusia terhadap wujud alam semesta ini, selama kreasi tersebut sejalan dengan fitrah manusia yang suci.

Pengertian Peradaban Islam
Peradaban berasal dari kata adab yang mengandung pengertian tata krama, perilaku, atau sopan santun. Maka peradaban Islam adalah kesopanan, akhlak, tata krama, dan juga sastra yang diatur sesuai syariat Islam. Kata peradaban seringkali dikaitkan dengan kebudayaan. Padahal keduanya berbeda. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang berwujud dalam tiga bentuk, yaitu : 
1) Wujud ideal berupa ide, gagasan, nilai, dan norma. 
2) Wujud perilaku berupa aktivitas manusia dalam masyarakat.
3) Wujud benda hasil karya manusia.
Sementara peradaban adalah istilah yang sering dipakai untuk menunjukan perkembangan  kebudayaan yang mencapai puncaknya, yang berwujud unsur-unsur kebudayaan yang halus, indah, tinggi, luhur, sehingga masyarakat yang memilikinya disebut masyarakat yang berperadapan tinggi. 
Kaitanya dengan berbagai definisi tersebut, yang dimaksud dengan peradaban Islan adalah peradaban orang-orang muslim atau peradaban manusia yang diilhami dan dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam yang universal, dalam lapangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian, yang didedikasikan bagi kepentingan dan kemaslahatan umat manusia di muka bumi ini. Peradaban Islam merupakan bagian dari kebudayaan Islam yang bertujuan memudahkan dan menyejahterakan hidup manusia di dunia dan di akhirat kelak.

Peradaban Islam: Wujud dan Prinsip-Prinsip Dasar 
Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibnu Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optik, kedokteran, dan sebagainya. Wujud sebuah perdaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting seperti berikut : 
Kemampuan manusia untuk berfikir sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi
Kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer
Kesanggupan berjuang untuk hidup
Kemampuan berpikir merupakan fondasi bagi sebuah peradaban. Suatu bangsa disebut peradaban bagi sebuah peradaban. Suatu bangsa disebut berperadaban jika masyarakatnya sudah mencapai tingkat kemampuan intelektual tertentu sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. 

Peradaban Barat, Yunani, dan Islam menjadi berkemabang karena pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh masyarakatnya. Tidak ada peradaban yang pernah maju tanpa adanya perhatian dan upaya serius dalam bidang pendidikan. Hal ini sepenuhnya berlaku peradaban Islam yang pernah menjadi pemimpin peradaban dunia, sebelum kemudian diambil alih oleh Barat pada masa modern sekarang ini. 

Peradaban memperoleh perhatian serius dalam Islam karena memiliki peran yang sangat penting dalam membumikan ajaran Islam sesuai dengan kondisi dan kebutuhan hidup umat Islam. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sebagai wujud peradaban manusia, dapat diterima Islam jika sesuai dengan nilai-nilai atau norma ajaran Islam. Dengan demikian, prisip-prinsip peradaban Islam merujuk pada sumber ajaran Islam, yaitu :
Menghormati akal. Manusia dengan akalnya bisa mewujudkan peradaban. Oleh karena itu, peradaban Islam menempatkan akal pada posisi terhormat. Peradaban Islam tidak akan memunculkan hal-hal yang dapat merusak akal manusia, sehingga ilmu pengetahuan, tekonologi, dan seni sebagai hasil dari peradaban manusia harus menjaga dan memaksimalkan potensi akal manusia dengan baik. 
Memotivasi untuk menuntut dan mengembangkan ilmu. Menurut Al quran, ilmu yang harus dikembangkan adalah ilmu yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia secara keseluruhan. Perkembangan ilmu pengetahuan menandai majunya sebuah peradaban.
Menghindari taklid buta. Peradaban Islam hendaknya mengantarkan umat manusia untuk tidak menerima sesuatu sebelum diteliti, melainkan dikritisi terlebih dahulu agar diketahui alasannya, sehinggga ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dihasilkan akan sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam. 
Tidak membuat pengrusakan. Peradaban Islam boleh dikembangkan seluas-luasnya oleh manusia, namun harus mempertimbangkan keseimbangan alam agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi.
Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk mengolah, mengelola, dan memakmurkan bumi tempat tinggal. Manusia dipersilahkan untuk mengembangkan peradaban sesuai dengan kapasitasnya sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi ini, tentunya dengan batasan-batasan yang ditetapkan syariat Islam.

IPTEKS sebagai Peradaban Islam
Manusia diciptakan Allah SWT dengan seperangkat potensi. Potensi yang paling istimewa adalah akal pikiran. Dengan akal pikirannya manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang bermanfaat bagi kehidupannya.

Dalam sejarah umat manusia, bangsa yang diduga dapat menciptakan ilmu dan teknologi pertama kali adalah bangsa Sumeria yang hidup kurang lebih 3000 tahun sebelum Masehi. Secara berturut-turut timbul peradaban Mesopotamia, peradaban Mesir Kuno, peradaban Yunani, peradaban Romawi, peradaban Persia, peradaban India, peradaban Cina, peradaban Islam dan akhirnya beralih ke Eropa atau Barat (Madjid, 1984: 52).

Pada masa Nabi Muhammad, Khulafa Rasyidun dan Bani Umayah, ilmu yang berkembang adalah ilmu-ilmu keagamaan, seperti ilmu Alquran, ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu fiqih, tasawuf, dan ilmu tata bahasa Arab. Contoh ilmu yang muncul saat itu adalah legalisasi penyusunan Alquran dalam satu mushaf. Yang lainnya yaitu berkembangnya ilmu kalam/teologi yang ditandai dengan lahirnya golongan-golongan teologis seperti Khawarij, Syiah dan lainnya.

Pada masa Bani Abbasiyah, ilmu yang berkembang tidak hanya pada ilmu keagamaan melainkan ilmu non keagamaan seperti matematika, kedokteran, astronomi, fisika, kimia, sastra dan seni yang berkembang dengan pesat. Perkembangan keilmuwan tersebut disebabkan oleh dukungan penuh penguasa. Umat islam pun secara serius mengkaji warisan pemikiran ilmiah dan filsafat dari peradaban-peradaban terdahulu sehingga muncullah ilmuwan-ilmuwan dan filosof-filosof muslim yang juga ahli dalam keagamaan. Dengan adanya tersebut, peradaban islam pun mencapai puncaknya bahkan menjadi kiblat peradaban dunia yang kemudian diambil alih oleh Barat atau Eropa.
Adapun ilmuwan-ilmuwan besar yang berpengaruh terhadap perkembangan ilmu , yaitu :
Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi. Popular disebut “Filosof Arab”, ia menulis berbagai subjek seliain filsafat, yaitu klasifikasi ilmu pengetahuan dan menulid dua risalah tentang mineralogy serta risalah tentang metalurgi dan seni pembuatan pedang. Al-Kindi juga menulis karya dalam bidang geologi, fisika, farmakologi, dan obat-obatan. Ia juga seorang ilmuwan muslim pertama yang menulis musik. (Myers, 2003: 1-2)
Hunayn bin Ishaq. Merupakan penerjemah terbaik di kota Baghdad pada masa Bani Abbasiyah. Ia seorang ahli fisika, ia juga menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Selain menerjemah ia juga menulis karya Orisinil di bidang kedokteran, filsafat, geografi, meteorology, zoology, linguistic, dan keagamaan. (Al-Hasan & Hill, 1993: 51)
Abu Ali bin Ibn Al-Haytsam. Seorang fisikawan muslim dan ahli matematika ternama. Ia merupakan optik, ia juga menulis karya lebih dari seratus judul, diantaranya yaitu  atematika, astronomi, dan fisika. Karya-karyanya berpengaruh besar terhadap perkembangan dunia ilmu pengetahuan dalam islam dan juga Barat. (Heriyanto, 2011: 143)
Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi. Merupakan ilmuwan muslim yang berkontribusi besar dalam bidang matematika. Ia menulis karya tertua tentang aritmatika dan aljabar. Dia juga berperan penting dalam memperkenalkan angka-angka Arab yang disebut algoritma. (Hitti, 2010: 474-475)
Jabir bin Hayyan. Seorang ahli kimia muslim termashur. Dia menerapkan cara pandang metafisis dan heurmeneutis terhadap unsur-unsur kimia seperti logam dan mineral. Ia dianggap sebagai penemu metode evaporatin, filtration, sublimation, calcination, melting, distillation, dan crystallization. Ia juga dikenal sebagi pendiri laboratorium kimia pertama. Dia menulis lebih dari 500 karya ilmiah, diantaranya yaitu filsafat, fisika, astronomi, astrologi, music, kedokteran, keagamaan, dan kimia. (Heriyanto, 2011: 182)
Abu Al-Abbas Ahmad Al-Farghani. Seorang ahli astronomi muslim terkenal karena menulis karya tentang pergerakan benda langit. Beberapa karyanya yaitu Ushul Ilm An-Nujum (Dasar-dasar ilmu Astronomi) dan Al-Madkhal ila ‘Ilm Al-Falak (Pengantar Ilmu Falak). (Mirza dan Shiddiqi, 1986: 175)
Abu Ali Al-Husaim bin Sina. Biasa disebut Ibnu Sina. Terkenal dalam bidang ilmu kedokteran, meski juga menguasai filsafat dan kesenian. Ia menulis lebih dari 200 karya tentang kedokteran, filsafat, geometri, astronomi, teologi, filologi, dan seni. Karyanya yang terkenal yaitu kitab Asy-Syifa, sebuah ensiklopedia filsafat yang didasarkan pada tradisi Aristotelian, dan Al-Qanum fi Ath-Thib yang merupakan modifikasi pemikiran kedokteran Yunani-Arab.
Penerjemah buku-buku ilmiah karangan ilmuwan-ilmuwan muslim ke dalam bahasa Latin berkontribusi besar bagi lahirnya Zaman kebangkitan Eropa yang dikenal dengan nama Renaissance. Beberapa orang Eropa juga mengakui bahwa mereka tak mungkin mengenal kebudayaan dan peradaban seperti sekarang jika tidak mendapat pengaruh dari intelektual muslim. (Hitti, 2010: 459-461)

Islam Sebagai Sumber Peradaban
Arti Peradaban
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan dua arti peradaban; 1) kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat perdabannya; dan 2) hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Peradaban dalam bahasa Arab disebut dengan al hadhârah atau al tamaddun atau al „umrân. Menurut Ibnu Khaldun, al hadhârah adalah sebuah periode dari kehidupan sebuah masyarakat yang menyempurnakan periode primitif (al badâwah) dari masyarakat itu, karena al hadhârah adalah puncak dari al badâwah.

Dari al-Qur’an ke Tradisi Ilmu 
Asas ilmu dan peradaban Islam itu adalah konsep seminal dalam al-Qur’an dan Sunnah. Konsep-konsep itu kemudian ditafsirkan, dijelaskan dan dikembangkan menjadi berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam. Keseluruhan kandungan al-Qur’an dan Sunnah yang dijelaskan oleh para ulama itu merefleksikan suatu cara pandang terhadap alam, baik dunia maupun alam akherat yang secara konseptual membentuk apa yang kini disebut Pandangan Alam, Pandangan Hidup atau Worldview. Oleh sebab itu, jika al-Qur’an diakui sebagai sumber peradaban Islam, maka dapat dikatakan pula bahwa pandangan hidup Islam merupakan asas peradaban Islam. Dan karena inti dari pandangan alam Islam adalah ilmu pengetahuan maka dapat disimpulkan lebih lanjut bahwa ilmu pengetahuan adalah asas peradaban Islam Dengan konsep yang seperti ini maka dapat dikatakan bahwa tidak ada sisi kehidupan intelektual Muslim, kehidupan keagamaan dan politik, bahkan kehidupan sehari-hari seorang Muslim yang awam yang tidak tersentuh sikap penghargaan terhadap ilmu. Ilmu memiliki nilai yang tinggi dalam Islam.

Pilar-Pilar Peradaban Islam
Islam sempat memilki peradaban yang sangat maju untuk waktu yang cukup lama. Bukan hanya hitungan tahun saja, melainkan berabad-abad. Imperium Islam bahkan sempat menjadi salah satu dari sekian peradaban yang mampu bertahan lama. Lebih menarik lagi, peradaban Islam pada saat itu adalah peradaban yang menjadi pelopor bahkan kiblat bagi peradaban-peradaban lain. Mengutip kalimat dari Dr. Zigrid Hunakoh, “Abad pertengahan tetangga Eropah adalah muslimin yang 800 tahun menjadi pelopor peradaban.”

Ilmu Pengetahuan
Sebuah peradaban tidak bisa dipisahkan dari ilm pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah syarat pertama dan utama bagi majunya sebuah bangsa. Tanpa pengetahuan sebuah bangsa akan tertinggal, bahkan akan binasa. Peran ilmu pengetahuan begitu signifikan. Keberadaan Islam sebagai sumber ilmu telah dibuktikan beberapa abad silam. Islam sebagai ilmu tentulah menjadi pilar terpenting dalam kemajaun perabadan umat manusia. Islamisasi pengetahuan berusaha supaya umat Islam tidak begitu saja meniru metode-metode dari luar dengan mengembalikan pengetahuan pada pusatnya, yaitutauhid. Dari tauhid, aka nada tiga macam kesatuan, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Selama umat Islam tidak mempunyai metodologi sendiri, maka umat Islam akan selalu dalam bahaya.

Tauhid dan Iman
Pilar peradaban Islam yang lain adalah tawhid dan iman. Dalam Qur‟an disebutkan, “ Jika penduduk kota itu beriman dan betaqwa, niscaya Kami buka di atas mereka berkat dari langit dan bumi “.Hakikat tauhid dan iman kepada Allah swt.

Prof. Dr. Ahmad Fuad Basha menggariskan asas pembangun peradaban Islam itu sebagai berikut:

Bangunan individu Muslim. 
Individu ini menjadi asas pertama dalam membangun peradaban Islam. Ini akan dapat tercapai jika adanya keseimbangan di antara sisi materi dan ruhani dalam diri setiap individu Muslim. Dari setiap individu inilah nantinya terlahir sebuah pola kehidupan yang seimbang pula antara materi dan ruhani. Sebagai contoh, setiap Muslim berkewajiban untuk selalu menyuruh kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyerukan kepada kebajikan, menyuruh(berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Bangunan komunitas yang seimbang. 
Bangunan individu yang memiliki keseimbangan antara materi dan ruhani tadi selanjutnya menjadi cikal bakal komunitas yang juga seimbang. Dalam hubungannya yang seimbang antara individu dengan komunitas ini, akan terdapat berbagai macam hak dan kewajiban. Dan dari korelasi keduanya ini juga akan melahirkan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan manusia. Mengenai komunitas yang seimbang ini, Al-Qur’an telah menjelaskan: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”(QS. Ar-Rahman: 7-9).

Menempatkan ilmu dalam posisi yang spesial dan penerapannya dalam perbuatan yang bermanfaat. 
Ilmu yang dianjurkan oleh agama Islam adalah ilmu yang komprehensif, mencakup ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum atau materi. Namun terdapat syarat yang menjadikan dianjurkannya pendalaman ilmu-ilmu tersebut, yaitu syarat manfaat. Standar yang digunakan dalam manfaat ini adalah kemaslahatan umat dan untuk menegakkan agama Islam.

Penanaman nilai-nilai kemajuan peradaban. 
Salah satu yang terpenting dalam bangunan peradaban Islam adalah penetapan sistem nilai-nilai yang mempengaruhi kehidupan manusia serta tingkah lakunya. Dalam hal ini, sangat jelas sekali fungsi agama dalam kehidupan manusia. Dalam agama Islam, firman Allah dan Sunnah Rasul menjadi pegangan utama untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, sesuatu yang boleh dan haram, dan lain sebagainya.

Dari keempat asas yang membangun peradaban Islam tadi, semuanya tidak terlepas dari konsep worldview Islam yang melalui pendekatan tauhidi. Peradaban Islam memang tidak dapat dipisahkan dari konsep tauhid yang ada dalam Islam itu sendiri. Konsep tauhid ini merupakan cara pandang yang utuh yang tanpa dikotomi dalam memandang sesuatu. Worldview itu tertanam pada setiap individu Muslim. Yang selanjutnya dari setiap individu tersebut membentuk komunitas. Dan dari situlah sebenarnya peradaban Islam itu bisa terbangun dan menjadikannya berbeda dengan peradaban-peradaban lainnya. Jadi, peradaban Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan worldview Islam itu sendiri.

BAB III
PENUTUP



KESIMPULAN
Seorang muslim harus mampu menelopori dan membimbing terwujudnya peradaban yang berlandaskan Islam. Dinamik peradaban menuntut dialog engan peradaban lain. Sehingga tidak ada salahnya umat Islam menerima sebagian dari hasil peradaban Barat, bukan untuk mebgadopsi basic ideologinya, karena kita memiliki identitas peradaban sendiri, melainkan untuk menggali bagaimana peradaban Barat dapat mencapai kemajuan dalam bidang iptek dan seni seperti sekarng ini. Iptek dan seni sebagai hasil peradaban umat islam hendaknya diarahkan sebagai media dalam mengegakkan nilai-nilai tauhid dan menebarkan nilai nilai ajaran Islam yang universal.




DAFTAR PUSTAKA
Sudrajat dkk, Ajat. 2016. Dinul Islam. Yogyakarta: Uny Press
https://saripedia.wordpress.com/tag/sumber-peradaban-islam/
https://harianilmu.wordpress.com/2014/01/29/islam-sebagai-pilar-peradaban/
https://ardianfajar.files.wordpress.com/2012/05/membangun-perdaban-islam-dengan-ilmu-pengetahuan.pdf

Baca Juga: Konstitusi Negara

Comments