KIBLAT DALAM SHALAT (ANALISIS PENAFSIRAN SURAH AL-BAQARAH [2]: 148-150)

Maha suci Allah, pemilik kebesaran dan kemuliaan, Puji syukur kami haturkan kehadirat-Nya, karena berkat rahmat serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tepat pada waktunya. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita baginda Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Sang revolusioner sejati, pembawa dan penuntun kalam ilahi.
Sebelumnya, kami ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang turut mendukung atas terselesaikan nya makalah ini. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyusun makalah ini. Meskipun kami menyadari bahwa masih  banyak kekurangan di dalamnya, baik dari segi penulisan atau isi. Oleh karena itu, kami membuka lebar  saran dan kritik dari pembaca yang budiman, agar kedepannya makalah ini dapat menjadi lebih baik.
Besar harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan  menambah pengetahuan serta  pengalaman bagi pembacanya.

Yogyakarta, 07 Maret 2018

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  i
KATA PENGANTAR  ii
DAFTAR ISI  iii
BAB I PENDAHULUAN  1
A. Latar Belakang Masalah  1
B. Rumusan Masalah  1
C. Kajian Pustaka 2
D. Tujuan Penulisan  2
E. Metode Penulisan  2
BAB II OBJEK KAJIAN  3
A. Ayat dan Terjemahan 3
B. Kosa Kata Gharib 3
C. Asbabun Nuzul   4
D. Munasabah Ayat 4
E. Tafsir Per-kata 6
BAB III PEMBAHASAN  6
A. Penafsiran Ayat  9
B. Kandungan Hukum  14
BAB IV PENUTUP  21
A. Kesimpulan  21
B. Saran  21
Daftar Pustaka  22
Lampiran  23 

BAB I 
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Arah kiblat merupakan arah yang dituju umat Islam dalam melaksanakan solat, yaitu menghadap ke arah Kabah di Masjidil Haram. Para Ulama’ sepakat bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sahnya solat, maka kaum Muslimin wajib menghadap kiblat ketika melakukan ibadah solat.
Pada hakikatnya kiblat merupakan suatu arah yang menyatukan umat Islam dalam melaksanakan solat, akan tetapi titik arah itu bukanlah objek yang disembah oleh umat Islam. Yang menjadi objek tujuan oleh umat islam dalam solat tidak lain hanyalah Allah SWT, dengan demikian umat Islam tidak menyembah Kabah tetapi menyembah Allah SWT.
Dewasa ini, muncul kembali beberapa persoalan mengenai arah kiblat, meskipun sebenarnya sejak dulu sudah ada perbedaan mengenai arah kiblat ini, dengan munculnya berbagai penafsiran yang berbeda-beda. Ulama’ mazhab berbeda pendapat, ada yang mengatakan harus menghadap kiblat secara persis (sempurna) atau hanya cukup mengarah ke Kabah saja. Oleh karena itu, kajian mengenai arah kiblat ini agaknya akan cukup menarik, dengan beberapa penafsiran yang ada, kami akan mencoba mengkaji kembali ayat-ayat tentang arah Kiblat tersebut. 

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalah yang diperoleh, antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana analisis struktural dalam surat Al-Baqarah ayat 148-150?
2. Bagaimana penafsiran dari surat Al-Baqarah ayat 148-150?
3. Apa saja kandungan hukum yang dapat diambil dari surat Al-Baqarah ayat 148-150?

C. Kajian Pustaka
Dalam makalah ini penulis mengambil kitab Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Abu Abdullah Muhammad Ibn Ahmad al-Ansari al-Qurtubi (1993) sebagai sumber utama dalam penulisan dalam penafsiran ayat tersebut. Serta untuk menambah penjelasan lebih jauh, penulisa juga mengambil dari berbagai kitab tafsir sebagai perbandingannya.

D. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui struktur dari surat Al-Baqarah ayat 148-150.
2. Untuk mengetahui penafsiran dari surat Al-Baqarah ayat 148-150.
3. Untuk mengetahui kandungan hukum yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 148-150.

E. Metode 
Adapun metode yang kami lakukan dalam penyusunan ini yakni dekriftif analitifg yaitu dengan mengambil dan menyusun berbagai sumber mengenai materi tersebut, kemudian dikumpulkan dan kami susun secara sistematis.

BAB II OBJEK KAJIAN
A. Ayat dan Terjemahan Q.S Al-Baqarah (2): 148-150
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ(148) وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُۥ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۗ وَمَا اللهُ بِغٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُون (149) وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِى وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِى عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(150)
“Dan setiap umat memiliki kiblat yang dia menghadapnya. Maka berlomba-lombalah kamu  dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(148) “Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu, Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan (149). Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu) kecuali orang-orang yang dzalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada dan aga kamu mendapat petunjuk”.(150) 
B. Kosa Kata Gharib
1. وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ  maksudnya arah kiblat.
2. هُوَ مُوَلِّيهَا  maksudnya masing-masing orang menghadapnya (kiblat).
Sesungguhnya setiap orang yang beragama memiliki    kiblat.
3. لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا  maksudnya kecuali orang-orang zalim membuat-buat alasan untuk menentang mu dengan bebrbagi alasan yang bathil. Yakni seperti perkataan orang Yahudi “Kamu dan sahabat-Mu menghadap Baitul Maqdis, apabila hal ini adalah sebuah kesesatan, maka sesungguhnya mereka mati dalam keadaan sesat, dan apabila ini sebuah petunjuk, maka sungguh kamu dialihkan darinya. (menuju Masjidil Haram). 
C. Asbabun Nuzul
Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur as-Suddi dengan sanad-sanadnya, dia berkata, “ Ketika kiblat shalat Rasulullah SAW dipindahkan ke arah Ka’bah setelah sebelumnya ke arah Baitul Maqdis, orang-orang musyrik Mekkah berkata,” Muhammad bingung dengan agamanya sehingga kiblatnya mengarah kepada kalian. Dia tahu bahwa kalian lebih benar darinya dan dia pun akan masuk ke dalam agama kalian. ‘ Maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya, ‘…agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu),...” (al-Baqarah: 150) 
D. Munasabah Ayat
Perintah menghadap kiblat dalam shalat tidak hanya dijelaskan pada ayat ini saja melainkan pada ayat sebelumnya Allah telah menyebutkan tentang kiblat yaitu pada ayat 144. Yang berbunyi: 
قَد نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجهِكَ فِي ٱلسَّمَاءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبلَة تَرضَىٰهَاۚ فَوَلِّ وَجهَكَ شَطرَ ٱلۡمَسجِدِ ٱلحَرَامِۚ وَحَيثُ مَا كُنتُم فَوَلُّواْ وُجُوهَكُم شَطرَهُۥۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلكِتَٰبَ لَيَعلَمُونَ أَنَّهُ ٱلحَقُّ مِن رَّبِّهِمۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعمَلُونَ )١٤٤( 

“Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sesungguhnya Kami memalingkan mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya”.
Dalam mengerjakan shalat, Nabi diperintahkan Allah menghadap shahrah (sebuah batu) yang berada di Baitul Maqdis. Ketika berada di Mekkah, Nabi shalat di Ka’bah sekaligus shahrah tersebut. Dengan kata lain Nabi menghadap dua kiblat. Setelah Nabi hijrah ke Madinah dia tidak dapat lagi melakukan hal itu, nabi hanya bisa menghadap pada shahrah yang di Baitul Maqdis padahal nabi lebih suka menghadap ka’bah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut untuk memenuhi keinginan Nabi. 
Pada ayat 149 dan 150 ini Allah memerintahkan umat Islam agar dalam shalat berkiblat ke Ka’bah dimanapun mereka berada. Ayat ini menegaskan kembali bahwa urusan kiblat adalah benar-benar atas perintah Allah. Kedua ayat ini mempunyai makna yang sam, bahkan di ungkapkan dalam redaksi yang hampir sam. Artinya terdapat pengulangan perintah atu hukum yang sama. Hal itu bertujuan untuk menguatkan perintah sebelumnya, pengulangan ini bermaksud memberitahu kepada manusia bahwa menghadap kiblat dalam shalat merupakan suatu yang sangat penting. 

BAB III 
PEMBAHASAN
A. Tafsir Perkata 
وَلِكُلٍّ Dan bagi masing-masing, maksudnya adalah setiap umat
وِجْهَةٌ arah dan tujuan, maksudnya adalah kiblat
 هُو yang dia (umat)
 مُوَلِّيهَ menghadap kepadanya di waktu solat
 فَاسْتَبِقُوا maka berlomba-lomba lah
 الْخَيْرَاتِ  berbuat kebaikan, maksudnya adalah segera menaati dan menerimanya

 أَيْنَ مَا dimana saja
 تَكُونُوا kamu berada
         pastilah Allah akan mengumpulkan kamu يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ
 جَمِيعًا semua, maksudnya di hari kiamat, lalu dia akan    membalas perbuatanmu.
 إِنَّ اللَّهَ Sesungguhnya Allah
 عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ atas segala sesuatu.
 قَدِيرٌ Mahakuasa. (148)
وَمِنْ حَيْثُ Dan dari mana saja
 خَرَجْتَ kamu keluar untuk sesuatu perjalanan
 فَوَلِّ وَجْهَكَ maka palingkanlah wajah mu
 شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ke arah Masjidil Haram.
 وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ Dan sesungguhnya itu merupakan ketentuan yang hak
 مِنْ رَبِّكَ dari Tuhanmu.
وَمَا اللَّهُ dan tidaklah Allah
 بِغَافِلٍ lalai
 عَمَّا تَعْمَلُونَ terhadap apa yang kamu kerjakan. (149)
وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ  dan dimana saja kamu berada
 فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ maka hadapkan lah mukamu
 شَطْرَهُ ke arahnya (Masjidil Haram), diulang untuk memperkuat
 لِئَلَّا يَكُونَ agar tidak ada
 لِلنَّاسِ bagi manusia, baik yahudi maupun orang-orang Musyrik
 عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ hujjah atas kamu, maksudnya alasan agar kamu meninggalkan dan berpaling ke arah lainnya. Kalimat ini untuk menangkis serangan mereka terhadapmu, seperti ucapan orang yahudi, “ia mengingkari agama kita tetapi ia mengikuti arah kiblat kita”, dan ucapan orang musyrik “ia mengaku mengikuti agam Ibrahim tetapi ia melanggar arah kiblat nya”.
 إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا kecuali orang-orang yang berbuat zalim
 مِنْهُمْ diantara mereka disebabkan keingkaran. Mereka mengatakan bahwa perpalingan Muhammad ke Kabah tidak lain karena kecenderungan nya kepada agama nenek moyangnya. Pengecualian di sini adalah berhubungan, dan maksudnya adalah tidakkah ada ocehan seorang pun kepadamu selain dari ocehan mereka.
فَلَا تَخْشَوْهُمْ maka janganlah kamu takut kepada mereka, maksudnya  teramat khawatir disebabkan peralihan peralihan kiblat itu
وَاخْشَوْنِي tetapi takutlah kepadaku, dengan mengikuti perintahku
وَلِأُتِمَّ dan agar aku sempurnakan, kata sambung  menghubungkan dengan lafaz لِئَلَّا يَكُونَ
نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ nikmat-Ku kepadamu, dengan menuntut mu kepada pokok agamamu
وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ dan supaya kamu memperoleh petunjuk kepada kebenaran. (150) 

B. Tafsir Ayat
1. Q.S Al-Baqarah (2): 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ.
“Dan setiap umat memiliki kiblat yang dia menghadapnya. Maka berlomba-lombalah kamu  dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. 
Dalam penafsiran al-Qurtubi  ayat tersebut secara umum ditafsirkan sebagai berikut: 
Pertama: Firman Allah swt: وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا  kata وِجْهَةٌ di sini memiliki arti arah, sedangkan maksudnya di sini adalah kiblat tempat mengarahkan wajah ketika shalat. Jika disambungkan dengan ayat sebelumnya, maka artinya adalah mereka tidak mengikuti kiblat kamu, dan kamu juga tidak mengikuti kiblat mereka, karena masing-masing telah memiliki kiblatnya tersendiri.
Kedua: Firman Allah swt: هُوَ مُوَلِّيهَا  menurut Rabi’Atha’, dan Ibnu Abbas, maknanya adalah setiap umat telah diberikan ajaran dan kiblatnya masing-masing. Sedangkan menurut Ali bin Sulaiman bahwa maknanya adalah yang menentukan setiap kiblat umat yakni Allah swt.
Ketiga: Firman Allah swt: فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ  berarti bersegaralah melakukan segala yang diperintahkan oleh Allah dalam hal ini adalah menghadap kiblat khusunya, namun umumnya segala ketaatan kepada-Nya. Yang tertulis pada ayat ini adalah tentang apa yang telah disebutkan mengenai pengarahan kiblat tadi, namun dikatakan oleh al-Qurtubi bahwa juga memiliki makna tersiratnya yaitu menyegerakan dalam shalat pada awal waktunya. 
Keempat: Firman Allah swt:  أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا memiliki arti “Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian”.  Kalimat أَيْنَ مَا تَكُونُوا merupakan kalimat syarat dan jawabannya adalah kalimat يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا  lantas selanjutnya إِنَّ اللهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِير yakni Allah memberikan sifat kepada zat-Nya sebagai Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, agar sifat ini berkesinambungan dengan apa yang disebutkan sebelumnya, yakni: dibangkitkannya seluruh manusia setelah mereka musnah dan binasa. 
Secara gari besarnya, dapat dipahami dari penafsiran al-Qurtubi bahwa ayat ini berbicara mengenai setiap umat Rasul memiliki kiblat yang berbeda. Dalam penggalan ayat selanjutnya, ditegaskan bahwa yang mengatur arah kiblat adalah Allah swt. Kemudian, bahwa ketika sudah ditetapkannya arah kiblat maka hendaknya bersegera menghadap kiblat yang artian dalam hal ini menurut al-Qurtubi adalah melaksanakan shalat pada awal waktu. Dalam penggalan akhirnya, dijelaskan bahwa di mana saja kita berada, akhirnya pun kita akan kembali berkumpul. Penggalan paling akhir ayat di atas, Allah menyebutkan diri-Nya sebagai Yang Maha Kuasa, dalam hal ini berkuasa untuk mengumpulkan dan memabangkitkan kembali manusia setelah musnahnya.
2. Q.S Al-Baqarah (2): 149-150
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُۥ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۗ وَمَا اللهُ بِغٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُون .وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِى وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِى عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.
“Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu, Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan (149). Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu) kecuali orang-orang yang dzalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada dan aga kamu mendapat petunjuk”. (150) 
Pertama: Firman Allah swt: وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ  Penggalan ayat ini adalah penekanan mengarahkan kiblat ke masjidil Haram. Dalam hal ini penafsiran kata شَطْرَ mengalami perbedaan di antara Mufassir. Di sini akan disinggungkan sedikit pendapat mufassir yang lain mengenai tafsiran kata tersebut sebagai berikut:
Dalam kitab Tafsir Jami’ Al-Bayan an Ta’wil Ayi Al-Qur’an  dijelaskan oleh Imam at-Thabari bahwa pendapat yang tepat adalah menghadapkan ke arah sisi Masjidil Haram. Dijelaskan pula bahwa ketika telah berniat dalam hati seseorang untuk menghadap kiblat, maka ia telah menghadap kiblat. Imam at-Thabari menganalogikan seperti orang yang berniat bermakmum pada seorang imam, berarti hukum makmumnya sah walaupun badanya di sisi beris tertentu dan imam berada di sisi lain dari samping kanan dan kiri, setelah ia berada di belakang imam dengan berniat menjadi makmum. Begitupun dengan hukum kiblat, walaupun setiap orang tidak sejajar dalam shalatnya, anggota tubunya menghadap kiblat tanpa ia menghadapnya, jika berada di samping dkanan dan kiri, berarti ia telah menghadap ke arah Ka’bah, baik jarak antara dia dengan Ka’bah masih jauh atau dekat, setelah badan dan arah pandangnya tidak berpaling, tidak membelakangi Ka’bah.
Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an , dijelaskan secara umum kata itu diartikan menghadap ke (arah) kiblat Masjidil Haram. Kemudian pula dijelaskan dalam kitab tafsir Fathul Qadir  bahwa asy-Syatr di sini adalah arah. Kata ini pada posisi nashab sebagai dzaraf (keterangan). Begitupun dalam tafsir al-Maraghi , bahwa kata asy-syatr diartikan arah. Seperti dalam penafsirannya bahwa orang-orang yang berkiblat ke Ka’bah, di manapun bisa melakukan shalat. Yang terpenting adalah menghadap ke (arah) Ka’bah. 
Selanjutnya, penggalan ayat وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ yakni: di masjid manapun baik di Madinah atau di kota apapun. Penggalan ayat وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ Maksudnya adalah diwajibkan mengarahkan kiblat shalat ke Masjidil Haram walaupun sedang berpergian. Ayat ini laksana penutup dari perintah mengarahkan kiblat shalat ke masjidil Haram, di segala tempat di dunia, tatkala sedang berpergian ataupun menetap di manapun. 
Dalam konteks ketika berpergian atau di perjalanan ada sebuah riwayat dari Ad-Daruquthni dari Anas bin malik, ia berkata: “Jika Rasulullah saw dalam perjalanan dan ingin melaksanakan shalat di atas kendaraanya, maka ia akan mengarahkan tubuhnay menghadap kiblat, setelah itu barulah ia bertakbiratul ihram dan melanjutkan shalatnya kemanapun kendaraan itu menghadapnya (HR. Abu Daud). Riwayat inilah yang kemudian oleh Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Abu Tsau dijadikan sebagai hujjah. 
Terdapat riwayat lain pula dari Ibnu Umar, ia mengatakan “Ketika Rasulullah saw shalat dalam suatu kendaraan, ia menghadap (entah) ke arah kota Makkah ataupu kota Madinah” kemudian Ibnu Umar menambahkan bawah saat itu pula turun ayat:  فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ  maka dari riwayat tersebut dijadikan hujjah oleh Imam Malik bahwa dalam perjalan tidak harus menghadap kiblat. 
Kedua: Firman Allah swt: لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ Mujahid mengatakan bahwa orang-orang yang dzalim di sini maksudnya adalah orang-orang musyrik jahiliyah. Sementara hujjah  di sini yang dimaksud adalah perekataan mereka yaitu “Engkau telah mengembalikan kiblat kami yang sebenarnya “ .
Quthrub berpendapat bahwa bisa jadi maknanya adala sebagai penahanan terhadap seseorang yang ingin menghujat nabi Muhammad saw kecuali orang yang dzalim. Sedang Ath-Thabari mengatakan bahwa Alah swt telah mencegah siapapun untuk menghujat Nabi saw dan para sahabatnya mengenai pemindahan kiblat ke arah Ka’bah.
Ketiga: Firman Allah swt: فَلَا تَخْشَوْهُمْ “maka janganlah takut kepada mereka”yang dimaksud mereka di sini adalah mereka yang telah disebutkan tadi, yakni orang-orang dzalim.  
Keempat: Firman Allah swt: وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِى ini merupakan sambumngan dari kata لِئَلَّا يَكُونَ dimaksudkan agar tidak menjadi hujjah tetapi agar menjadi sempurna, ini merupakan pendapat dari Al-Akhfasy. Kemudian Az-Zujaj berpendapat bahwa sebenarnya adalah, agar dapat Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu dengan memberitahukan arah kiblat ini.
Kelima: Firman Allah swt: وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ bahwa supaya mereka mendapatkan petunjuk dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah swt.  
Diantara hikmah mengapa Allah sampai mengulang tiga kali mengenai perintah menghadap kiblat ini, sebagai berikut:
Pertama, menurut Ibnu Abbas ini adalah sebagai penekanan perintah, karena ini merupakan perintah pertama mengenai nasakh dan mansukh. Kedua, menurut Fakhruddin ar-Razi ayat ini diturunkan menyinggung mengenai beberapa hal mengenai kiblat. Yaitu, bagi orang yang langsung di muka Ka’bah, bagi orang yang di luar Masjidil Haram, dan bagi orang yang di luar Makkah dari berbagai penjuru dunia. Begitupun dengan al-Qurtubi, bahwa ini untuk orang Makkah, untuk orang luar Makkah dan untuk orang di tengah perjalanan. Ketiga, diulangnya sampai tiga kali sesuai dengan tujuan ayat pertama, Al-Baqarah (2): 144, yang menerangkan bahwa Allah telah mengabulkan permintaan dan harapan Nabi Muhammad saw lalu menyuruhnya mengahdap Ka’bah yang diinginkannya yang mana diakibatkan olokan orang Yahudi.
Sedangkan hikmah dari ayat 149, menjelaskan bahwa perubahan kiblat ke Ka’bah itu hak dan benar-benar dari perintah Allah yang juga seseuai dengan keinginan Nabi saw. Kemudian hikmah dari ayat 150 yaitu untuk mematahkan alasan apa saja yang akan diada-ada oleh orang yang menentang perubahan kiblat.  

C. Kandungan hukum
1. Yang di maksud dengan Masjidil Haram dalam Al-Qur’an
Masjidil Haram di sebut dalam berbagai ayat yang ada di Al-Quran dan dalam sunah Nabi Saw, sedangkan dari penyebutan tersebut terdapat berbagai macam maksudnya yaitu:
a. “Kabah” sebagaimana dalam firman Allah “maka palingkanlah muka mu ke arah Masjidil Haram” (Q.S 2: 144) yang di maksudnya itu Kabah
b. “Masjidil Haram” secara keseluruhan, seperti sabda Nabi Saw:
صلاة فى مسجدى هذاخيرمن ألف صلاة فيما سواة إلاالمسجدالحرام
“Shalat di masjid ku ini lebih utama daripada salat seribu kali di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”
Dan sabdanya:
لاتشدالرحال إلا إلى ثلاثة مساجدالمسجدالحرام, ومسجدى هذا, والمسجدالأقصى.
“Tidak boleh di tuju melainkan tiga buah masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid ku ini, dan Masjidil Aqsha” (H.R Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).
Yang di maksud dalam sabda tersebut tidak boleh menuju suatu masjid, yang di dasari dengan niat mencari berkah keutamaanya, sebab semua masjid dimana pun memiliki keberkahan yang sama, kecuali tiga masjid yang di sabdakan. 
c. “Mekah” sebagaimana firman Allah “Maha suci Allah, yang telah menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha” (Q.S al-Isra 17/1), sedangkan Isra tersebut dari Mekah. Dan seperti firma-Nya “merekalah orang-orang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram” (Q.S Al-Fath 48:25) dan ketika itu umat muslim di halangi untuk memasuki Mekah.
d. “Tanah Haram” itu secara keseluruhan yaitu mekah dan sekitarnya sebagaimana dalam firman-Nya “sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini” (Q.S At-Taubah 9:28), sedang yang Allah maksud dalam ayat itu adalah tanah haram secara keseluruhan.
Kemudian yang di maksud dengan Masjidil Haram dalam ayat
. فول وجهك شطرالمسجدالحرام
(maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram) ini, adalah makna yang pertama, yaitu Kabah
2. Apakah harus menghadap tubuh Kabah atau dipandang cukup menghadap ke arahnya saja?
Menghadap kiblat adalah syarat sahnya shalat, sehingga tidak sah solat tanpa menghadap kiblat, kecuali shalat khauf, solat sunat di atas kendaraan atau perahu, karena hal tersebut di perbolehkan kemana saja kita menghadap sesuai dengan kendaraan itu menghadap, karena ada riwayat dari Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi:
 أن النبي ص.م كان يصلى على راحلته حيثما توجهت به وفيه نزلت ,فأينما تولوا فثم وجه الله
“Bahwa sesungguhnya Nabi saw, pernah solat di atas kendaraan nya, (menghadap ke arah) dimana saja kendaraan nya itu menghadap”, dan berkenaan dengan hadis ini turunlah ayat “Maka ke arah mana saja kamu menghadap, di situlah wajah Allah” (Q.S Al-Baqarah 2:115)
Mengenai masalah ini tidak ada perbedaan pendapat atau masalah di antara para ulama, hanya saja yang mereka selisihkan adalah apakah harus menghadap ke tubuh kabah atau cukup mengarah ke kabah saja?
Golongan syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat wajib menghadap ke tubuh Ka’bah sedangkan golongan Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat wajib bagi orang yang melaksanakan shalat dan melihat ka’bah sedangkan yang melaksanakan shalat tetapi tidak bisa melihat kabah maka tidak di wajibkan untuk menghadap secara tepat ke tubuh kabah 

2.1. Dalil-dalil golongan Syafi’iyah dan Hanabilah
Golongan syafi’iyah dan hanabilah mendasari pendapatnya dengan Al-Qur’an, Hadis, dan Qiyas.
a. Adapun dalil Al-Qur’an yaitu zhahirnya firman Allah “maka palingkanlah mukamu ke  arah Masjidil Haram”(Q.S 2:144), sedang bentuk pengambilanya dalil (istidlal) mereka itu ialah yang di maksud “syathr” yaitu arah yang tepat bagi orang yang sedang shalat dan mengena dalam hadapannya” maka dengan demikian menghadap ainul ka’bah menjadi wajib.
b. Adapun dalil dari sunnah yaitu riwayat Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid r.a bahwa ia berkata:
ولما دخل النبي ص.م البيت دعا فى نواحيه كلها ولم يصل حتى خرج منه, فلما خرج صل ركعتين فى قبل الكعبة وقال: هذه القبلة
“Tatkala Nabi saw, masuk kedalam Baitullah (Ka’bah), ia berdo’a di sekelilingnya seluruhnya, dan ia tidak shalat sebelum berada di luarnya, maka ketika ia sudah keluar ia shalat dua rakaat menghadap ka’bah seraya bersabda: inilah kiblat”.
Mereka berkata: kata-kata ini menunjukan pembatas sehingga dengan demikian tubuh Ka’bah itu.
c. Sedang alas mereka dengan qiyas adalah dengan melihat Rasulullah yang benar-benar menghormati ka’bah, ini merupakan berita yang mutawatir, dan shalat adalah sesuatu tanda yang agung dalam kebesaran Agama, sedang menentukan sahnya shalat harus menghadap ainul ka’bah menambah kemuliaan nya maka di wajibkan atas itu.
Mereka juga mengataan, bahwa adanya ka’bah sebagai kiblat adalah merupakan suatu perkara yang sudah ddi tentukan secara pasti, dan yang lain merupakan perkara yang masih di ragukan, sedang memelihara sikap berhati-hati dalam shalat adalah perkara yang wajib pula, maka dengan itu di wajibkan dalam shalat untuk menghadap ainul ka’bah. 

2.2. Dalil-dalil golongan Malikiyah dan Hanafiyah
Golongan Malikiyah dan Hanafiyah mereka mendasari atau menghukumi dengan Al-Qur’an, sunnah, amalan sahabat dan akal fikiran.
a. Adapun dalil Al-Qur’an yaitu zhahirnya firman Allah “maka palingkanlah mukamu ke  arah Masjidil Haram”(Q.S 2:144), disitu Allah tidak berfirman “ke arah ka’bah” maka barang siapa telah menghadap sebuah sisi dari masjidil haram maka ia telah melaksanakan apa yang di perintahkan, baik pas ke arah ka’bah atau tidak
b. Sedangkan dalil yang berasal dari sunnah adalah sabda Nabi saw:
. ما بين المشرق والمغرب قبلة
“Antara timur dan barat adalah kiblat”
Dan sabdanya:
الكعبة قبلة لأهل المسجد, والمسجد قبلة لأهل الحرم, والحرم قبلة لأهل الأرض فى مشارقها ومغاربهامن أمتى
“Baitullah (ka’bah) itu kiblat bagi ahli masjid (orang yang shalat di dalam masjidil haram) dan masjid (masjidil haram) adalah kiblat bagi penduduk tanah haram (mekah dan sekitarnya), sedangkan tanah haram adalah kiblat bagi penduduk bumi baik timur maupun barat dari kalangan umatku.”
c. Dan dalil yang bersumber amalan dari sahabat adalah bahwa jama’ah masjid Quba pada waktu shalat shubuh di madinah menghadap ke Baitul Maqdis membelakangi ka’bah, kemudian (di tengah-tengah shalat) di beritakan kepada mereka bahwa kiblat telah di pindahkan ke arah ka’bah, lalu mereka memutar arah di tengah tengah shalat tersebut tanpa mencari petunjuk arah, sedang Nabi saw. Tidak menegur mereka dengan kajadian tersebut masjid yang pakai pada saat itu di namakan Dzul Qiblatain mesjid duan kiblat. Sedangkan untuk mengetahui ainul ka’bah di perlukan petunjuk arah.
d. Sumber yang berasal dari aqal fikiran yaitu, begitu sulit orang yang berada di dekat mekah untuk mencari arah ainul ka’bah lantas bagaimana dengan yang lebih jauh dari itu, jika menghadap ainul ka’bah di wajibkan tentu sedikit orang yang sah shalatnya di akibatkan hal tersebut. 

3. Fatwa Majelis Ulama Indonesia
Majelis Ulama Indonesia menimbang perkara ini dari berbagai sumber seperti Al-Qur’an, Hadist, Tafsir, dan pendapat para Ulama. Adapun salah satu pendapat MUI dalam mempertimbangkan fatwa mengenai Arah Kiblat mengacu pada pendapat beberapa Ulama sebagai berikut: 
a. Pendapat Imam Ala al-Din al-kasani Al-Hanafi dalam kitab Bada’i Shana’i fi Tartib al-Syara’i:
 أن المصلي لايخلو إما إن كان قادرا على الإستبال أو كان عاجزاعنه. فإن كان قادرا يجب عليه التوجه إلى القبلة إن كان فى حال مشاهدة الكعبة فإلى عينها يعني أي جهة الكعبة. حتى لوكان منحرفا عنه غم متوجه إلى شئ منها لم يجز. لقوله تعالى: (وحيث ما كنتم فولواوجوهكم شطره) وفي وسعه تولية الوجه إلى عينها, فيجب ذلك. وإن كان غائبا عن الكعبة يجب عليه التوجه إلى جهتها وهي المحاريب المنصوربة بالأمارات الدالة عليها, لا إلى عينها. وتعتبرالجهة دون العين. كذا ذكر الكرخي والرازي, وهو قول عامة مشايخنابما وراء النهر
“sesungguhnya bagi orang yang shalat tidak boleh kosong/lepas, apakah ia mampu atau tidak untuk menghadap kiblat, apabila mampu maka wajib untuk menghadap kiblat, dan jika dapat menyaksikan (ka’bah) maka ia harus menghadap kepada ainul ka’bah atau dari arah kiblat jika ia tidak menghadap salah satunya itu tidak di perbolehkan. Sebagaiman firman Allah “ dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya..” 
b. Pendapat Imam al-Syirazi dalam kitab al-Muhadzdzab:
. وإن لم يكن شئ من ذلك نظرت- فإن كان ممن يعرف الدلائل – كان غائبا عن مكة – اجتهد فى طلب القبلة, لأن له طريقا إلى معرفتها بالشمس والقمر والجبال والرياح
“Jika sama sekali ia tidak mendapatkan petunjuk apapun, maka dilihat maslahatnya. Jika ia termasuk orang yang mengetahui tanda-tanda atau petunjuk arah kiblat, meskipun ia tidak bisa melihat ka’bah ia tetap harus berijtihad untuk megetahui kiblat. Karena ia memiliki cara untuk mengetahuinya melalui keberadaan matahari, bulan, gunung dan angin.”
Maka dari pendapat di atas, juga dari beberapa pendapat lain yang penulis tidak cantumkan semua, Majelis Ulama Indonesia memutuskan dan menetapkan mengenai Arah Kiblat :
Pertama, Ketentuan Hukum:
1. Kiblat bagi orang yang shalat dan dapat melihat Ka’bah adalah menghadap ke bangunan Ka’bah (Ainul Ka’bah).
2. Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Ka’bah adalah arah Ka’bah (Jihat al-Ka’bah).
3. Shalat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke Barat laut dengan posisi bervariasi sesuai dengan letak kawasan masing-masing.
Kedua, Rekomendasi:
Bangunan masjid atau mushola yang tidak tepat arah kiblatnya, perlu ditata ulang shaf-nya tanpa membongkar bangunannya. 
Fatwa ini ditetapkan di Jakarta tanggal 18 Rajab 1431H/ 01 Juli 2010 M. 

BAB IV PENUTUP
A. Simpulan
1. Struktur dari tiga ayat tersebut adalah sebagai penegasan kembali tentang perintah shalat untuk menghadap ke arah kiblat, dan sebagai jawaban Nabi saw yang diperolok oleh orang-orang dzalim.
2. Penafsiran dari ayat tersebut sebagaiman ditafsirkan oleh al-Qurtubi secara singkat ia berpendapat bahwa cukup hanya dengan Jihatul Ka’bah tidak Ainul Ka’bah, yakni tidak harus tepat mengarah ke Ka’bah.
3. Kandungan hukumnya adalah jika Golongan syafi’iyah dan Hanabilah  berpendapat wajib menghadap ke tubuh Ka’bah sedangkan golongan Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat wajib bagi orang yang melaksanakan shalat dan melihat ka’bah sedangkan yang melaksanakan shalat tetapi tidak bisa melihat kabah maka tidak di wajibkan untuk menghadap secara tepat ke tubuh ka’bah. Dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia bahwa Shalat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke Barat laut dengan posisi bervariasi sesuai dengan letak kawasan masing-masing.
B. Saran
“Tak ada gading yang tak retak” begitulah adagium yang sudah diketahui bersama, begitupun dalam penulisan makalh ini, tentu masih jauh dari yang namanya sempurna, maka dari itu penulis berharap bagi semua pembaca budiman dapat memberikan saran kritik kepada kami yang bersifat membangun. Kemudian, penulisa berharap semoga dengan hadirnya makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya, dan menjadi amal jariyah bagi penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Agama RI, Kementrian.  2010. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: Sygma Examedia Arkanleema.
Amin, Ma’ruf dkk. 2011.  Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1975. Jakarta: Penerbit Erlangga.
A Manan, Imron dan Hamidy Mu’Ammal. 1985.  Terjemahan Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shabuni. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1987. Tafsir Al-Maragi diterjemahkan oleh Anshori Umar Sotunggal dkk menjadi Tafsir Al-Maragi.  Semarang: CV. Toha Putra.
Al-Qurtubi, Abu Abdullah Ibn Ahmad al-Ansari. 1993. Al-jami’ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Asy-Syaukani, Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad. 2008. Fathul Qadir (Al-Jami’ baina Ar-Riwayah wa Ad-Dirayah min ilm Al-Tafsir), diterjemahkan oleh Amir Hamzah Dachruddin dan Asep Saefullah menjadi Tafsir Fathul Qadir. Jakarta: Pustaka Azzam.
As-Suyuthi, Jalaluddin. 2008. Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat Al-qur’an. Jakarta: Gema Insani.
Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. 2008. Jami’ Al-Bayan an Ta’wil Ayi Al-Qur’an, diterjemahkan oleh Ahsan Askan menjadi Tafsir ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam.
Katsir, Ibnu. 1990. Tafsir al-Qur’anul Adzim, diterjemahkan oleh Anggota IKAPI menjadi Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir.  Surabaya: P.T Bina Ilmu.
Nasir, Bachtiar. 2013. Tadabbur Al-Quran: Pandangan Hidup Bersama Al-quran Jilid 1. Jakarta: Gema Insani.
Qutaybah, Ibnu. 1958. Tafsir Gharib Al-QuraN. Beirut: Alam Al-Kutub. 
Yusuf, Kadar M. 2011.  Tafsir Tematik Ayat-Ayat Hukum. Jakarta: Amzah.
Quthb, Sayyid. 2013. Fi Zhilalil Qur’an, diterjemahkan oleh As’ad Yasin menjadi Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.  Depok: Gema Insani.


LAMPIRAN
تفسير القرطبي : الجامع لأحكامالقران
(وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيها فَاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ أَيْنَ ما تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللَّهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ :)148)
فِيهِ أَرْبَعُ مَسَائِلَ:
الاولى- قوله تعالى: ولِكُلٍّ وِجْهَةٌ
الْوِجْهَةُ وَزْنُهَا فِعْلَةٌ مِنَ الْمُوَاجَهَةِ. وَالْوِجْهَةُ وَالْجِهَةُ وَالْوَجْهُ بِمَعْنًى وَاحِدٍ، وَالْمُرَادُ الْقِبْلَةُ، أَيْ إِنَّهُمْ لَا يَتَّبِعُونَ قِبْلَتَكَ وَأَنْتَ لَا تَتَّبِعُ قِبْلَتَهُمْ، وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ إِمَّا بِحَقٍّ وَإِمَّا بِهَوًى.
الثانية- قوله تعالى: هوَمُوَلِّيها
وَقَالَ عَلِيُّ بن سليمان:"موَلِّيها" أَيْ مُتَوَلِّيهَا.وَقَرَأَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ عَامِرٍ" مُوَلَّاهَا" عَلَى مَا لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ. وَالضَّمِيرُ عَلَى هَذِهِ الْقِرَاءَةِ لِوَاحِدٍ، أَيْ وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ قِبْلَةٌ، الْوَاحِدُ مُوَلَّاهَا أَيْ مَصْرُوفٌ إِلَيْهَا، قَالَهُ الزَّجَّاجُ. وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ عَلَى قِرَاءَةِ الْجَمَاعَةِ "هُوَ" ضَمِيرُ اسْمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْ لَمْ يَجْرِ لَهُ ذِكْرٌ، إِذْمَعْلُومٌ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَاعِلٌ ذَلِكَ، وَالْمَعْنَى: لِكُلِّ صَاحِبِ مِلَّةٍ قِبْلَةٌ اللَّهُ مُوَلِّيهَا إِيَّاهُ.
 وقدم قوله "ولِكُلٍّ وِجْهَةٌ" على الامر في قوله: "فاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ" لِلِاهْتِمَامِ بِالْوِجْهَةِ كَمَا يُقَدَّمُ الْمَفْعُولُ، وَذَكَرَ أَبُو عَمْرٍو الدَّانِيُّ هَذِهِ الْقِرَاءَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا. وَسَلِمَتِ الْوَاوُ فِي"وجْهَةٌ" لِلْفَرْقِ بَيْنَ عِدَةٍ وَزِنَةٍ، لِأَنَّ جِهَةً ظَرْفٌ، وَتِلْكَ مَصَادِرُ.
الثالثة- قوله تعالى:"فاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ"
أَيْ إِلَى الْخَيْرَاتِ، فَحَذَفَ الْحَرْفَ، أَيْ بَادِرُوا مَا أَمَرَكُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ اسْتِقْبَالِ الْبَيْتِ الْحَرَامِ، وَإِنْ كَانَ يَتَضَمَّنُ الْحَثَّ عَلَى الْمُبَادَرَةِ وَالِاسْتِعْجَالِ إِلَى جَمِيعِ الطَّاعَاتِ بِالْعُمُومِ، فَالْمُرَادُ مَا ذُكِرَ مِنَ الِاسْتِقْبَالِ لِسِيَاقِ الْآيِ
الرَّابِعَةُ- قوله تعالى:" أَيْنَما تَكُونُوا"
شرط، وجوابه:"يأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعاً" يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ. ثُمَّ وصف نفسه تعالى بالقدرة على كل شي لِتَنَاسُبِ الصِّفَةِ مَعَ مَا ذُكِرَ مِنَ الْإِعَادَةِ بعد الموت والبلى.

)وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُۥ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۗ وَمَا اللهُ بِغٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُون (149) وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِى وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِى عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(150)(
قَوْلُهُ تَعَالَى:" وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ" قِيلَ: هَذَا تَأْكِيدٌ لِلْأَمْرِ بِاسْتِقْبَالِ الْكَعْبَةِ وَاهْتِمَامٌ بِهَا، لِأَنَّ مَوْقِعَ التَّحْوِيلِ كَانَ صَعْبًا «1» فِي نُفُوسِهِمْ جِدًّا، فَأَكَّدَ الْأَمْرَ لِيَرَى النَّاسُ الِاهْتِمَامَ بِهِ فَيَخِفُّ عَلَيْهِمْ وَتَسْكُنُ نُفُوسُهُمْ إِلَيْهِ. وَقِيلَ: أَرَادَ بِالْأَوَّلِ: وَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْكَعْبَةِ، أَيْ عَايِنْهَا إِذَا صَلَّيْتَ تِلْقَاءَهَا. ثم قال: "وَحَيْثُ ما كُنْتُمْ" مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ فِي سَائِرِ الْمَسَاجِدِ بِالْمَدِينَةِ وَغَيْرِهَا "فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ". ثُمَّ قَالَ: "وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ" يَعْنِي وُجُوبَ الِاسْتِقْبَالِ فِي الْأَسْفَارِ، فَكَانَ هَذَا أَمْرًا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى الْكَعْبَةِ فِي جَمِيعِ الْمَوَاضِعِ مِنْ نَوَاحِي الْأَرْضِ.
قَوْلُهُ تَعَالَى: "لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ" قَالَ مُجَاهِدٌ: هُمْ مُشْرِكُو الْعَرَبِ. وَحُجَّتُهُمْ قَوْلُهُمْ: رَاجَعْتَ قِبْلَتَنَا، وَقَدْ أُجِيبُوا عَنْ هَذَا بِقَوْلِهِ: "قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ". وَقِيلَ: مَعْنَى "لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ" لِئَلَّا يَقُولُوا لَكُمْ: قَدْ أُمِرْتُمْ بِاسْتِقْبَالِ الْكَعْبَةِ وَلَسْتُمْ تَرَوْنَهَا، فلما قال عز وجل: "وَحَيْثُ ما كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ" زَالَ هَذَا
وَقَالَ قُطْرُبُ: يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمَعْنَى لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا، فَالَّذِينَ بَدَلٌ مِنَ الْكَافِ وَالْمِيمِ فِي" عَلَيْكُمْ".
 وَقَالَ ابْنُ عَطِيَّةَ: وَقِيلَ إِنَّ الِاسْتِثْنَاءَ مُنْقَطِعٌ، وَهَذَا عَلَى أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِالنَّاسِ الْيَهُودَ، ثُمَّ اسْتَثْنَى كُفَّارَ الْعَرَبِ، كَأَنَّهُ قَالَ: لَكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا يُحَاجُّونَكُمْ، وَقَوْلُهُ" مِنْهُمْ" يَرُدُّ هَذَا التَّأْوِيلَ. وَالْمَعْنَى لَكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا، يَعْنِي كُفَّارَ قُرَيْشٍ فِي قولهم: رجع محمد إلى قبلتنا
 قَوْلُهُ تَعَالَى: "فَلا تَخْشَوْهُمْ" يُرِيدُ النَّاسَ "وَاخْشَوْنِي" الْخَشْيَةُ أَصْلُهَا طُمَأْنِينَةٌ فِي الْقَلْبِ تَبْعَثُ عَلَى التَّوَقِّي. وَالْخَوْفُ: فَزَعُ الْقَلْبِ تَخِفُّ لَهُ الْأَعْضَاءُ، وَلِخِفَّةِ الْأَعْضَاءِ بِهِ سُمِّيَ خَوْفًا. وَمَعْنَى الْآيَةِ التَّحْقِيرُ لِكُلِّ مَنْ سِوَى اللَّهِ تَعَالَى، وَالْأَمْرُ بِاطِّرَاحِ أَمْرِهِمْ وَمُرَاعَاةِ أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى.
 قَوْلُهُ تَعَالَى: "وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ" مَعْطُوفٌ عَلَى" لِئَلَّا يَكُونَ" أَيْ وَلِأَنْ أُتِمَّ، قَالَهُ الْأَخْفَشُ. وَقِيلَ: مَقْطُوعٌ «1» فِي مَوْضِعِ رَفْعٍ بِالِابْتِدَاءِ وَالْخَبَرُ مُضْمَرٌ، التَّقْدِيرُ: وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ عَرَّفْتُكُمْ قِبْلَتِي، قَالَهُ الزَّجَّاجُ. وَإِتْمَامُ النِّعْمَةِ الْهِدَايَةُ إِلَى الْقِبْلَةِ، وَقِيلَ: دُخُولُ الْجَنَّةِ. قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: وَلَمْ تَتِمَّ نِعْمَةُ الله على عبد حتى يدخله الجنة."و لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ" تقدم «2».

Comments